TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH

Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning (Einstein).

MODEL EXPERIENTIAL LEARNING DAN CONTOH IMPELEMENTASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning (Einstein).

PERANAN KOMPUTER DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning (Einstein).

PENGERTIAN, FUNGSI, DAN CARA KERJA PROCESSOR PC/LAPTOP

Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning (Einstein).

MENGENAL LEBIH DEKAT SOFTWARE PhotoScape v3.7

Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning (Einstein).

Rabu, 14 Maret 2018

PERANAN KOMPUTER DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

PERANAN KOMPUTER  
DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS 

Oleh: Arif Saeful Hikmat
(Mahasiswa Pascasarjana Prodi Teknologi Pendidikan IPI)


A.  Pendahuluan
Di era globalisasi ini banyak hal yang dapat dilakukan seseorang dengan komputer. Komputer adalah media atau alat bantu untuk mempermudah pekerjaan seseorang baik dalam bidang pendidikan maupun yang lainnya. Komputer sangat berperan aktif dalam pendidikan. Selain dapat mengakses informasi dari segala penjuru dunia, komputer juga dapat membantu para pendidik untuk mengajar dan menyajikan pelajaran yang menarik dan kreatif baik di sekolah maupun di perguruan tinggi sehingga peserta didik merasa nyaman dengan pengajaran yang telah diberikan oleh pendidik.
Seperti yang kita ketahui bahwa terkadang pelajaran yang disajikan oleh pendidik dapat menarik minat siswa untuk mempelajarinya jika pengajaran yang diberikan oleh pendidik tersebut menarik dan kreatif. Peserta didik yang ingin memahami materi lebih dalam dari sebuah bidang studi dapat menginstal software (program) yang berkaitan dengan pelajaran tersebut. Komputer juga dapat membantu peserta didik untuk membuat karya ilmiah yang baik dan menarik. Informasi – informasi yang mendukung karya ilmiah tersebut dapat di cari melalui internet. Oleh karena itu, banyak pengguna komputer yang merasa nyaman dengan menggunakan komputer.

B.  Komputer
Komputer adalah alat elektronik otomatis yang dapat menghitung dan memberikan hasil pengolahan serta dapat menjalankan sistem multimedia (film, musik, televisi, faksimile, dsb) biasanya terdiri atas unit pemasukan, unit pengeluaran, unit penyimpanan serta unit pengontrolan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Berdasarkan generasinya komputer terbagi menjadi empat masa, yaitu :
1.    Komputer Generasi Pertama (1946-1959),
2.    Komputer Generasi Kedua (1959-1964),
3.    Komputer Generasi Ketiga (1964-1970),
4.    Komputer Generasi Keempat (1979-sekarang).
Untuk mewujudkan konsepsi komputer sebagai pengolah data untuk menghasilkan suatu informasi, maka diperlukan sistem komputer yang elemennya terdiri dari hardware, software dan brainware. Ketiga elemen sistem komputer tersebut harus saling berhubungan dan membentuk kesatuan. Hardware tidak akan berfungsi apabila tanpa software,demikian juga sebaliknya. Dan keduanya tidak bermanfaat apabila tidak ada manusia(brainware) yang mengoperasikan dan mengendalikannya.
Berdasarkan data yang diolah, ada tiga golongan komputer yaitu: a) Komputer Analog, b) Komputer Digital dan c) Komputer Hybrid. Sedangkan berdasarkan penggunaannya ada komputer untuk tujuan khusus dan komputer untuk tujuan umum. Berdasarkan kapasitas dan ukurannya ada enam golongan komputer yaitu : a) Komputer Mikro, b) Komputer Mini, c) Komputer Kecil, d) Komputer Menengah, e) Komputer Besar dan f) Komputer Super. (Wahono, 2003: 1).

C.  Guru
1     1. Pengertian Guru
Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, mengenai ketentuan umum butir 6, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa guru adalah pendidik.
Menurut UU no. 14 tahun 2005 “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 377), yang dimaksud dengan guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Pengertian guru menurut KBBI di atas, masih sangat umum dan belum bisa menggambarkan sosok guru yang sebenarnya, sehingga untuk memperjelas gambaran tentang seorang guru diperlukan definisi-definisi lain.
Menurut Suparlan dalam bukunya yang berjudul Menjadi Guru Efektif, mengungkapkan hal yang berbeda tentang pengertian guru. Menurut Suparlan (2008: 12), guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya. Namun, Suparlan (2008: 13) juga menambahkan bahwa secara legal formal, guru adalah seseorang yang memperoleh surat keputusan (SK), baik dari pemerintah maupun pihak swasta untuk mengajar.
Berdasarkan berbagai pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa guru secara umum adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.

2.    Peran Guru 
Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997).
Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :
a.    Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
b.   Guru Sebagai Pengajar
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu: Membuat ilustrasi, Mendefinisikan, Menganalisis, Mensintesis, Bertanya, Merespon, Mendengarkan, Menciptakan kepercayaan, Memberikan pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar, Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan. Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
c.    Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
d.   Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.
e.    Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
f.     Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.
g.    Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru : Sikap dasar, Bicara dan gaya bicara, Kebiasaan bekerja, Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, Pakaian, Hubungan kemanusiaan, Proses berfikir, Perilaku neurotis, Selera, Keputusan, Kesehatan, Gaya hidup secara umum perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri. Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
h.   Guru Sebagai Pribadi
Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani.  Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat terganggunya proses pendidikan bagi peserta didik. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.
i.      Guru Sebagai Peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Menyadari akan kekurangannya guru berusaha mencari apa yang belum diketahui untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Sebagai orang yang telah mengenal metodologi tentunya ia tahu pula apa yang harus dikerjakan, yakni penelitian.
j.     Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.
k.   Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada pesarta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
l.      Guru Sebagai Pekerja Rutin
Guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
m. Guru Sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah, yang suka memindah-mindahkan dan membantu peserta didik dalam meninggalkan hal lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjauhi dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai. Guru harus memahami hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi peserta didiknya.
n.   Guru Sebagai Pembawa Cerita
Sudah menjadi sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaannya serta bagaimana berhubungan dengan keberadaannya itu. Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul dalam lingkungannya dan berhubungan dengan lingkungan, tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu diperoleh melalui cerita. Guru tidak takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia. Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain, yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka. Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
o.    Guru Sebagai Aktor
Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga tentang kepribadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarnya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya. Tahun demi tahun sang actor berusaha mengurangi respon bosan dan berusaha meningkatkan minat para pendengar.
p.   Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insane dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.
q.    Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Penilaian harus adil dan objektif.
r.    Guru Sebagai Pengawet
Salah satu tugas guru adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa depan. Sarana pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu adalah kurikulum. Guru juga harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang akan diawetkan.
s.     Guru Sebagai Kulminator
 Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator. Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik.

D.  Pembelajaran
Contoh Pembelajaran berbasis media komputer

1.    Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi.
Menurut Wikipedia, pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

2.    Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran (instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Hal ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Magner (1962) mendefinisikan tujuan  pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh  peserta didik sesuaikompetensi. Sedangkan  Dejnozka dan Kavel (1981) mendefinisikan tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan spefisik  yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan  yangmenggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
Pengertian lain menyebutkan bahwa, tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode pembelajaran (Slavin, 1994).  Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.

3.    Penyusunan Tujuan Pembelajaran

Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Dari tahap inilah ditentukan apa dan bagaimana harus melakukan tahap lainnya. Apa yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran menjadi acuan untuk menentukan jenis materi pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran yang akan digunakan dalam  proses pembelajaran. Tanpa tujuan yang jelas, pembelajaran akan menjadi kegiatan tanpa arah, tanpa fokus, dan menjadi tidak efektif.

E.  Peran Komputer Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Menurut Gagne dan Briggs dalam Rosenberg (2000), komputer dapat digunakan sebagai media pembelajaran karena memiliki kelebihan dari media pembelajaran yang lain dan memiliki fungsi antara lain sebagai berikut :
a.      Hubungan Interaktif : Komputer dapat menjembatani hubungan komunikasi antara dua orang atau lebih. Komputer dapat memunculkan ide-ide atau wacana baru dan meningkatkan minat terhadap media.
b.   Pengulangan : Pengguna komputer terutama mahasiswa atau dosen dan guru dapat mengulang materi atau bahan ajar dengan metode yang menarik yang telah disediakan komputer seperti musik, video, atau microsoft office.

c.   Feedback and Reward : Dengan komputer guru atau dosen dapat memberikan saran atau perbaikan dan tentu saja pujian kepada mahasiswa yang dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Saran dan pujian ini dpaat disampaikan secara online dan seketika sehingga mahasiswa yang lain dapat mengetahui saran, perbaikan dan pujian tersebut yang tentunya juga dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan potensi diri terutama dalam pembelajaran.
Komputer adalah media yang dapat digunakan dalam pengajaran dengan berbagai metode yang berbeda-beda. Peran komputer secara umum adalah:
a.         Komputer dapat menjadi pengganti dosen dalam belajar.
b.   Dengan komputer para pembelajar bahasa dapat menentukan sendiri program bahasa yang disukainya dan belajar sesuai dengan kemampuan dan waktu yang dimiliki.
c.         Dapat memotivasi para pembelajar lewat variasi pelajaran dengan suara dan gambar.
d.    Program komputer dapat menghitung jawaban yang benar dan salah secara otomatis, sehingga para pembelajar dapat mengetahui skor/nilai segera setelah soal-soal dikerjakan.

F.       Contoh Bentuk-Bentuk Pembelajaran Dengan Meggunakan Komputer
Ada berbagai macam bentuk-bentuk pembelajaran dengan menggunakan komputer. Contohnya adalah sebagai berikut:
a.    Pembelajaran dengan menggunakan Microsoft Word. Dengan memanfaatkan program Word, dapat diketik bahan ajar yang menarik, menggunakan berbagai format tulisan, warna dan ukuran kertas yang bervariasi. (schule.bayern.de)
b.    Pembelajaran dengan format PDF. Biasanya format PDF digunakan untuk menyajikan berbagai macam bentuk presentasi yang dilengkapi dengan suara dan gambar.
c.    Pembelajaran dengan memanfaatkan program Scan. Untuk men-scan suatu gambar atau teks yang menarik yang akan digunakan sebagai bahan ajar, komputer harus dilengkapi dengan alat scanner.
d.   Pembelajaran dengan menggunakan tabel atau grafik dengan memanfaatkan program PDF atau Microsoft Office.
e.    Pembelajaran dengan menggunakan CD-ROM. Dengan fasilitas CD-ROM dapat diputar film atau yang sejenisnya yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan. Tentu saja pelengkap seperti loud-speaker atau headset juga diperlukan.
f.     Pembelajaran dengan menggunakan komputer yang tersambung dengan internet. Apabila suatu komputer dapat tersambung dengan jaringan internet, maka proses pembelajaran  dapat diselenggarakan secara online dan materi ajar terkini dapat diakses dengan cepat dan seketika.

G. Hambatan-Hambatan Pemanfaatan Komputer dalam Proses Pembelajaran Bahasa Inggris
Beberapa Pertimbangan pemanfaatan Komputer ke dalam proses pembelajaran Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan komputer untuk pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah: 1) penolakan/keengganan untuk berubah (resistancy to change) khususnya dari policy maker (kepala sekolah dan guru); 2) kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru); 3) ketersedian fasilitas komputer; 4) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan 5) keberlangsungan (sustainability) karena keterbatasan dana.
Penolakan atau keengganan untuk berubah, khususnya dari para pembuat kebijakan sekolah dan guru merupakan hal yang wajar mengingat komputer masih dapat dikatakan sebagai suatu inovasi (hal baru). Sikap para pengambil kebijakan atauguru terhadap komputer sebagian besar masih rendah disebabkan karena kurangnyapengetahuan terhadap komputer dan peran pentingnya bagi pembelajaran. Disampingitu, sikap keengganan/penolakan inipun didukung oleh karena redahnya melek teknologi (ICT literacy). Sehingga, kesiapan guru dan kompetensi guru untuk memanfaatkan komputer dalam pembelajaran menjadi lemah. Walhasil, fasilitas komputer di sekolahpun menjadi terbatas sehingga kelangsungan pemanfaatan komputer di sekolah juga masih dipertanyakan. Terlebih-lebih, ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber (resources-based learning packages), seperti modul, buku paket, VCD pembelajaran, CD-ROM pembelajaran, maupun bahan belajar online masih terbatas. Sebagai sumbang saran, dalam rangka mengintegrasikan komputer ke dalam proses pembelajaran (kelas), penulis merekomendasikan beberapa hal berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan: Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengedepankan pengintegrasian komputer untuk pembelajaran. Misalnya melalui pencanangan visi, misi, peraturan dan rencana  induk/rencana strategis sekolah ke depan. e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa guru panutan di sekolah menyadari penuh pentingnya peran komputer untuk pembelajaran dan berupaya untuk terus mempelajari dan menerapkannya di sekolah.
Penyiapan SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kompetensi guru dalam mengintegrasikan komputer kedalam pembelajaran (termasuk berbagai strategi/metode pembelajaran yang efektif). Bila perlu guru mengadopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif  dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Disamping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang komputer untuk pembelajaran.
Penyiapan fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar terjadinya belajar berbasis aneka sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas seperti perpustakaan (cetak dan non-cetak), komputer yang terhubung dengan LAN, koneksi internet, VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang kelas. Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain  dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri. Penyiapan tenaga teknis; fasilitas komputer yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memlihara peralatan tersebut.

H.      Penutup
Ada berbagai macam variasi pembelajaran dengan menggunakan komputer. Tujuan pembelajaran ini adalah pemanfaatan teknologi dalam hal belajar dan mengajar. Komputer dapat menjadi asisten atau alat yang sangat berguna apabila si pengajar tahu fungsi dan kegunaan komputer.
Oleh karena itu amat disarankan kepada para pengajar untuk mempelajari fungsi komputer sehingga pembuatan media pembelajaran dengan menggunakan komputer dapat diselenggarakan secara optimal.

Referensi:

Senin, 05 Maret 2018

MODEL EXPERIENTIAL LEARNING DAN CONTOH IMPELEMENTASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

MAKALAH

MODEL EXPERIENTIAL LEARNING
DAN CONTOH IMPELEMENTASINYA
PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
 Mata Kuliah Strategi Kognitif
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Mohamad Surya



Disusun oleh :
Arif Saeful Hikmat
NIM. 17862001







KELAS A ANGKATAN XIV
PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
KONSENTRASI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA
2018


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan pada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Model Experiential Learning Pada Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris” dengan tepat waktu. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Strategi Kognitif Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Mohamad Surya.
            Penulis berharap makalah ini dapat memberi manfaat dan menambah wawasan bagi pembaca. Penulis memohon maklum jika makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari pembaca.
Garut, Februari 2018

Penulis

  
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ..................................................................................
DAFTAR ISI ................................................................................................
.
i
ii
A.      PENDAHULUAN .................................................................................
1.    Latar Belakang Masalah ....................................................................
2.    Rumusan Masalah ..............................................................................
3.    Batasan Masalah ................................................................................
4.    Tujuan dan Manfaat Penulisan ...........................................................

B.       DESKRIPSI ...........................................................................................
1.    Pengertian Experiential Learning ......................................................
2.    Tahap Pembelajaran Experiential Learning ......................................

C.      PEMBAHASAN ....................................................................................
Impelementasi Teori Model Experiential Learning dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris ..................................................
1.    Kegiatan Awal ...................................................................................
2.    Kegiatan Inti .......................................................................................
3.    Kegiatan Akhir ...................................................................................

D.      REKOMENDASI ..................................................................................
E.       REFERENSI ..........................................................................................

1
1
3
3
3

4
4
7

8

8
8
9
9

10
10



MODEL EXPERIENTIAL LEARNING DAN CONTOH IMPELEMENTASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS


A.      PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang Masalah
Menurut Sudjana (2000:1), pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa, maka untuk menghasilkan sumber daya manusia yang baik sebagai subjek dalam pembangunan diperlukan modal dari hasil pendidikan itu sendiri. Kurikulum, guru dan pengajaran atau proses belajar dan mengajar adalah tiga variabel utama yang saling berkaitan dalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Untuk mencapai proses pembelajaran yang mengarah kepada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan atau intelektual, serta pembangunan keterampilan peserta didik sesuai kebutuhan, maka diperlukan pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para peserta didiknya untuk suatu profesi atau jabatan saja, akan tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
Sanjaya (2007:13), menjelaskan bahwa komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses pembelajaran adalah komponen guru. Karena guru merupakan ujung tombak yang berhubungan dengan peserta didik sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagus dan idealnya kurikulum pendidikan, bagaimanapun lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya maka semuanya akan kurang bermakna. Apalagi dalam era reformasi ini guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar (learning resource), akan tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran (learning manager).
Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh peserta didik. Maka guru harus memiliki kepekaan terhadap aktifitas peserta didiknya untuk mengetahui karakteristik peserta didiknya secara personal. Hal ini diperlukan untuk mempermudah guru dalam pentransferan pengalaman kepada peserta didik dan memperlancar proses pembelajaran.
John Dewey dalam buku Handbook Experiential Learning karya Mel Siberman (2014:3), menyatakan bahwa pembelajaran eksperensial yang sukses tidak hanya melibatkan peserta didik dalam kegiatan melainkan mereka membantu peserta didik untuk memunculkan makna dari kegiatan tersebut. Karena John Dewey mempunyai pendapat bahwa seluruh pengalaman bisa menyebabkan pembelajaran bahkan bisa menyebabkan perubahan. Hal ini karena tujuan terakhir dari proses pembelajaran adalah peserta didik memiliki transfer of learning, sehingga diharapkan mereka dapat mentransfer pengetahuan yang mereka dapatkan ke situasi nyata dalam kegiatan sehari-hari.
Keterampilan transfer of learning sangat dibutuhkan peserta didik setelah proses pembelajaran, oleh karena itu pembelajaran di sekolah tidak cukup hanya mengedepankan fakta-fakta atau konsep saja akan tetapi dibutuhkan pengalaman-pengalaman dalam memahami fakta atau konsep tersebut. Ditinjau dari aspek psikologi, anak lebih memahami materi konkret daripada abstrak dan maknawi. Oleh karena itu pembelajaran dimulai dari yang konkret ke yang abstrak, yang material menuju immaterial, dengan begitu peserta didik mudah memahami konsep yang rumit jika disertai dengan contoh-contoh yang konkret sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui penanganan dan perlakuan terhadap materi yang benar-benar nyata.
Dengan begitu peserta didik akan lebih aktif dan mudah paham dalam proses pembelajaran tersebut, karena guru memilih sebuah model tepat untuk mengaktifkan kegiatan peserta didiknya dan melibatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka model yang cocok digunakan adalah model Experiential Learning, karena dalam pembelajaran model ini melibatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik dapat menuangkan semua pengalamannya ketika proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik untuk membahas mengenai model Experiential Learning dan contoh impelementasinya dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris.

2.        Rumusan Masalah
Dari pernyataan dalam latar beakang masalah diatas, maka diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana deskripsi teori model Experiential Learning?
2.   Bagaimana contoh impelementasi teori model Experiential Learning dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris?
3. Rekomendasi apa yang diberikan penulis mengenai impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran?

3.        Batasan Masalah
Agar penulisan makalah ini lebih terarah, terfokus, dan menghindari pembahasan menjadi terlalu luas, maka penulis perlu membatasinya. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.        Pembahasan singkat deskripsi teori model Experiential Learning
2.        Contoh impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran bahasa Inggris.
3.        Rekomendasi penulis mengenai impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran.

4.        Tujuan dan Manfaat Penulisan 
a.        Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
a.    Mengetahui bagaimana deskripsi teori model Experiential Learning.
b. Mengetahui bagaimana contoh impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran bahasa Inggris.
c. Mengetahui rekomendasi apa yang diberikan penulis mengenai impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran.

b.        Manfaat Penulisan
Dari penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun secara praktis.
a.    Manfaat Teoritis
1)      Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan dan khazanah ilmu pengetahuan.
2)      Dapat memberikan masukan dan informasi secara teori mengenai contoh impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris.
b.    Manfaat Praktis
1)      Bagi penulis sendiri, memberikan tambahan pengetahuan dan menambah wacana keilmuan khususnya dalam hal teori model Experiential Learning serta impelementasi nya dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris.
2)      Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses belajar mengajar.
3)      Bagi pembaca, dengan adanya karya tulis ini, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai contoh impelementasi  teori model Experiential Learning dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris.

B.       DESKRIPSI
1.        Pengertian Experiential Learning
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2006:773), model adalah “contoh, pola, acuan dan cara”. Menurut Suprijono (2013: 46), model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Banyak sekali model-model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran diantaranya adalah model experiential learning.
Experiential Learning Teory (ELT) yang kemudian menjadi dasar model pembelajaran experiential learning dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal 1980-an. Model ini menekankan pada sebuah pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam experiential learning, pengalaman mempunyai peran sentral dalam proses belajar. Sebagaimana yang didefinisikan Association for Experiential Education (AEE) dalam Maulana (2015:9), mendefinisikan “experiential education is a process through which a learner construct knowledge, skill, and value from direct experiences”. “Pendidikan berbasis pengalaman merupakan sebuah proses dimana para pelajar membangun pengetahuan, keterampilan dan nilai dari pengalaman langsung.
Menurut Nasution dalam Maulana (2015:9), istilah learning by experience atau belajar melalui pengalaman juga sering diidentikkan dengan istilah learning by doing atau belajar sambil melakukan. Experiencing means living through actual situation. All product of learning are achieved by the learner through his own activity. Mengalami berarti mengahayati situasi-situasi sebenarnya. Semua hasil belajar diperoleh melalui kegiatan sendiri. Dengan begitu peserta didik akan memperoleh pengalamannya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Bagaimanapun pengalaman merupakan seluruh kegiatan dan hasil yang komplek dari interaksi aktif manusia. Sebagai makhluk hidup yang sadar yang tumbuh dengan lingkungan di sekitarnya yang berubah dalam perjalanan waktu.
Istilah “experiential” disini untuk membedakan antara belajar kognitif yang cenderung menekankan kognisi lebih daripada efektif, dan teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam proses belajar. David Kolb dalam Siberman (2014:4), pengarang Experiential Learning mendefinisikan pembelajaran sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Menurut Baharudin dalam Maulana (2014:11), pengetahuan merupakan hasil dari memahami dan mentransformasi pengalaman. Tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi peserta didik dengan tiga cara, yaitu mengubah struktur kognitif peserta didik, mengubah sikap peserta didik, dan memperluas keterampilan-keterampilan peserta didik yang ada. Ketiga elemen tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu dari elemen tersebut tidak ada maka elemen lainnya tidak akan efektif.
Model experiential learning memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengalami keberhasilan dengan memberikan kebebasan peserta didik untuk memutuskan pengalaman apa yang menjadi fokus mereka, keterampilan-keterampilan apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Hal ini berbeda dengan pendekatan belajar tradisional dimana peserta didik menjadi pendengar pasif dan hanya guru yang mengendalikan proses belajar tanpa melibatkan peserta didik. Perbedaan ini dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Experiential Learning
Pembelajaran Tradisional
Aktif
Pasif
Pertisipatif, berbagi arah
Otokratis, satu arah
Dinamis, belajar dengan melakukan
Terstruktur, belajar dengan mendengar
Bersifat terbuka
Cakupan terbatas dengan sesuatu yang baku
Mendorong untuk menemukan sesuatu
Terfokus pada tujuan belajar yang khusus
Bersandar pada penemuan individu
Bersandar pada keahlian mengajar

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa experiential learning tidak hanya memberikan wawasan pengetahuan konsep-konsep saja, namun juga memberikan pengalaman yang nyata yang akan membangun keterampilan melalui penugasan-penugasan nyata. Selanjutnya model ini akan mengakomodasi dan memberikan proses umpan balk serta evaluasi antara hasil impelementasi  dengan apa yang seharusnya dilakukan. Dalam hal ini experiential learning menggunakan katalisator untuk membantu peserta didik mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran.

2.        Tahap Pembelajaran Experiential Learning
Menurut Ghuffron dan Risnawita dalam Maulana (2014:13), pembelajaran experiential learning terdiri dari empat tahapan, yaitu:
a.       Tahap pengalaman nyata
b.      Tahap observasi refleksi
c.       Konseptualisasi
d.      Tahap implementasi
Keempat tahap tersebut oleh David Kolb digambarkan dalam bentuk lingkaran sebagai berikut:

Gambar 2.1. Experiential Learning Cycle

Dari gambar 2.1. diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Tahap pengalaman konkret (concrete)
Pada tahap ini peserta didik belum memiliki kesadaran tentang hakikat dari suatu peristiwa. Peserta didik hanya dapat merasakan kejadian tersebut apa adanya dan belum dapat memahami serta menjelaskan bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi. Inilah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar.
b.    Tahap pengamatan aktif dan reflektif (observation and reflection)
Pada tahap ini belajar harus memberi kesempatan kepada seluruh peserta didik melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya. Hal ini dimulai dengan mencari jawaban dan memikirkan kejadian yang ada dalam dunia sekitarnya. Peserta didik melakukan refleksi dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi.
c.    Tahap konseptualisasi (forming abstract concept)
Setelah peserta didik diberi kebebasan melakukan pengamatan, selanjutnya diberi kebebasan merumuskan (konseptualisasi) terhadap hasil pengamatannya. Artinya peserta didik berupaya membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya.
d.   Tahap eksperimentasi aktif (testing in new situation)
Tahap ini didasarkan atas asumsi bahwa hasil dari proses belajar harus bersifat produk nyata. Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan kedalam situasi nyata. Belajar harus memberikan ruang kebebasan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori serta konsep-konsep di lapangan. (Muchith dalam Maulana, 2014:15).

C.      PEMBAHASAN
Impelementasi Teori Model Experiential Learning dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris
Dalam pelaksanaan pembelajaran kosakata bahasa Inggris kelas VII Sekolah Menengah Pertama, guru menggunakan model pembelajaran experiential learning. Model tersebut merupakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik dan menggunakan pengalaman sehari-hari yang dimiliki peserta didik, yang diikut sertakan dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris.
Adapun implementasi model pembelajaran experiential learning dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris, dapat dilihat dari langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
1.    Kegiatan Awal
a.    Guru memberikan salam dan menyapa peserta didik
b.    Guru mengecek kehadiran peserta didik, berdo’a bersama dan menyiapkan buku pelajaran.
c.    Guru dan peserta didik melakukan tanya jawab mengenai nama benda yang ada di sekitar kelas.
d.   Guru meminta peserta didik untuk mendeskripsikan benda-benda tersebut secara sederhana untuk menggali informasi awal mengenai pengetahuan awal peserta didik.
e.    Guru menyampaikan standar kompetensi dan uraian kegiatan yang akan dilaksanakan.

2.    Kegiatan Inti
Dengan bimbingan guru:
a.       Peserta didik menyebutkan nama-nama benda yang ada di dalam kelas, kemudian mencari arti nama-nama benda tersebut dalam bahasa Inggris.
b.      Peserta didik menyebutkan benda dan masing-masing jumlahnya.
c.       Peserta didik mengidentifikasi apakah benda yang mereka temukan termasuk ke dalam bentuk kata benda tunggal (singular) atau jamak (plural).
d.      Peserta didik membuka tas sekolah mereka dan mencari kosakata bahasa Inggris yang berhubungan dengan benda-benda yang mereka temukan didalam tas.
e.       Peserta didik melakukan tanya jawab dengan teman sebangkunya tentang benda-benda yang ada dalam tas mereka dengan menggunakan bahasa Inggris.

3.    Kegiatan Akhir
a.       Guru menanyakan kepada peserta didik tentang manfaat apa yang mereka terima dari pembelajaran yang telah diselesaikan.
b.      Guru bersama peserta didik mendiskusikan kesulitan dalam melakukan proses pembelajaran kosakata kata benda dalam bahasa Inggris.
c.       Guru bersama peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran
d.      Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk mencari dan menghapalkan nama-nama benda yang ada di lingkungan rumah sebagai tugas untuk diujikan pada pertemuan berikutnya.
e.       Guru menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran pada pertemuan berikutnya.



D.  REKOMENDASI
Berdasarkan kajian teori serta praktik pembelajaran yang telah dilakukan, pembelajaran dengan menggunakan model experiential learning memberikan dampak positif bagi hasil belajar bahasa Inggris peserta didik, serta meningkatkan konsep dan mempermudah peserta didik dalam menyusun konsep kosakata bahasa Inggris berdasarkan sumber belajar lingkungan sekitarnya.
Adapun rekomendasi penulis mengenai model experiential learning ini adalah:
1.    Model experiential learning dapat digunakan sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris peserta didik.
2.    Model experiential learning dapat digunakan sebagai model pembelajaran yang menunjang proses pembelajaran yang menyenangkan, saintifik, dan memberikan hasil pemahaman yang baik.

E.  REFERENSI

Alamanda. 2015. Penerapan Model Pembelajaran  Experiential Learning Terhadap Perubahan Konseptual Siswa Pada Materi Sifat-Sifat Cahaya. Dalam https://media.neliti.com/media/publications/139263-ID-none.pdf. Downoad 13 Februari 2018 Jam 14.00 WIB.
Mahfudin. 2011. Model Pembelajaran Experiential Learning. Dalam http://albyjmahfudz.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-experiential.html. Downoad 13 Februari 2018 Jam 14.20 WIB.
Maulana, Fahmi. 2014. Implementasi Model Experiential Learning Dalam Pembelajaran IPA Materi Energi dan Perubahannya Siswa Kelas IV MI Miftahus Shibyan Mijen Semarang (Skripsi). Semarang. UIN Walisongo Semarang.
Silberman, Mel. 2014. Handbook Experiential Learning. Terj. M.Khozim. Bandung. Nusa Media.











PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN APLIKASI SKYPE

PEMBELAJARAN JARAK JAUH MENGGUNAKAN APLIKASI SKYPE Oleh: Arif Saeful Hikmat Dewasa ini perkembangan teknologi semakin maju hingga...